Monday, January 30, 2017

Gerakan Budaya Tai

Oleh: Anggoro Suprapto

Pagi-pagi, aku dapat BBM dari Mas Teha Edi Djohar: "Mas, tolong bantu merapat ke Kafe Spot Jalan Pemuda Semarang, penting sekali. Maaf ya kalau tidak sopan. Bisa ya?", tanyanya sangat berharap belum lama ini. Karena kebetulan hari itu aku tidak ada kegiatan, maka aku pun datang ke Kafe Spot. Betul, di situ sudah berkumpul Mas Teha dan kawan-kawan seniman lain. Setelah aku duduk, Mas Teha menjelaskan, "Mas, ini kita akan membicarakan masalah tai", tuturnya enteng. Meski siang itu tidak ada mendung, aku kaget bagai tersambar petir. "Tai?", tanyaku meyakinkan. Edan,  jadi ini mau rapat masalah tai, sambil makan-makan di kafe? Bagi yang mentalnya tidak kuat, tentu bakal jijik, masak makan dan minum kok yang dibicarakan tai.


Namun aku sudah terlatih untuk berpikir cepat, dan diam-diam menganalisa. Betul juga, kita ini kan ke mana-mana membawa tai di perut, tapi tidak sadar juga. Coba kalau yang kita bawa di tubuh kita itu, tiba-tiba mogok tidak mau keluar, kan berabe, bisa sakit serius. Jadi, saya simpulkan, pembicaraan soal tai sangat penting. Bahkan mungkin lebih penting dari urusan negara, haha.

Meski begitu, saya berpikir serius. Sosok Toha Edy Djohar ini termasuk manusia aneh juga. Ketika para seniman lain berbicara soal seni pertunjukan yang indah-indah dan bernilai art,  dia malah mau membuat 'Seni Pertunjukan Tai'. Apa manfaatnya untuk masyarakat? Tai kan tidak elok dipandang.

Kutatap sosok lelaki sederhana itu, dari mana ia dapat ide gilanya tersebut? Edannya lagi, para seniman Semarang seperti Eko Tunas, Basa AL Kalam, Driya Widyana MS, Artvelo Sugiarto, Lukni Maulana, Bayu Aji Anwari, Tundung Klavierra, Ant Sugiarto, Kelana Kristyaningtyas, Wage Teguh Wiyono, Bagus Budi Santoso, Ahmad Fauzi, Art Gottic, Fransiska Ambar Kristiani, Bunda Sulis Bambang, dan lain-lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, ikut mendukung. Aneh kan> Hehehe

Bah, aku menghela nafas panjang berkali-kali. Seandainya Teha Edy Djohar mengikuti langkah penyair F. Rahadi yang mementaskan puisinya 'Soempah WTS' di kompleks lokalisasi, akan semakin elok dipandang. Misalnya dia pentas di Sunan Kuning Semarang, kompleks WTS terbesar di ibu kota Jateng itu, dan disaksikan para bidadarinya, wah ajib tenan. Pasti banyak seniman, terutama yang muda-muda, pada hadir, hahaha... Tapi, dia bersikukuh harus seni pertunjukan tai ... (Gubrak).

Sejujurnya, aku tidak ahli dalam soal seni pertunjukan. Dari Eko Tunas dapat masukan, Seni Pertunjukan Tai, pernah dipentaskan oleh Putu Widjaya di TIM. Dihadiri juga Gubernur DKI, Ali Sadikin. Di panggung, ada sebuah kotak persegi seperti tempat berak di tepi-tepi sungai. Bagian bawahnuya dibiarkan terbuka, di tengahnya ada toilet duduk, disorot lampu, dan penonton bisa melihat jelas. Lalu ada orang beneran yang berak di kloset tersebut dan tainya besar-besar betul keluar dari dubur. Baunya menyengat ke seluruh ruangan. Kata Eko Tunas yang ikut hadir, Ali Sadikin langsung berdiri dan marah-marah, "Aku membangun tim untuk pertunjukan seni budaya dan bukan tai seperti ini", katanya keras sambil buru-buru meninggalkan ruangan.

Itu di TIM Jakarta masa lalu. Bagaimana soal Seni Pertunjukan Tai di Semarang? "Akan berbentuk seni ekologi dengan limbah tai beneran, Mas", kata Teha pada saya. "Limbahnya sudah siap, di dekat tempat tinggal saya, Tanggungrejo, Kaligawe, Semarang. Masyarakat setempat juga mendukung", tutur Edy Djohar buru-buru menambahkan. Memang seni pertunjukan ekologi sudah sering dilakukan di tanah air, tetapi medianya pakai lumpur. Kalau limbah tai, wah ngeri, karena penuh kuman. Ada yang usul, harus disediakan dokter, sebagai tenaga medis, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

MEski ngeri, tetapi seniman muda, Lukni Maulana dan Ahmad Fauzi, siap menjadi relawab berkubang di limbah tai. "Saya berani, Pak", tegas Ahmad Fauzi kepada Saya. Kupandang lelaki muda, gagah, dan tampan itu. Tidak terbesit rasa takut pun tergambar di mukanya. Malah ada kesan cengengesan. Demikian juga Lukni Maulana, "Saya juga berani, Pak. Siapa taku?!", katanya. Soal kemasan pertunjukannya, Eko Tunas yang memang berlatar belakang dunia panggung dan teater, siap mengeksekusi, diperkuat Kelana Kristyaningtyas. Wah, nampaknya bakal mulus.

Gerakan Kebudayaan Tai obsesi Teha Edy Djohar dengan seni pertujukan tai ini, katanya terus membayangi. Bahkan di rumah, dia sempat ditegur istri dan anak-anaknya. Kok yang dipikirkan tai melulu. Namun dia tidak surut atau malahan berhenti, malah membentuk "Komunitas Tai Indonesia", dan dia mengikrarkan diri sebagai presidennya. Presiden Tai. Mungkin nanti akan dibentuk Menteri Tai, DPR Tai, Camat Tai, Lurah Tai, dan seterusnya. Gawat, hehehe

Karena beliau meminta bantuan saya untuk memperkuat konsep tentang tai itu, maka berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, memkikirkan hal itu. Setelah membaca berbagai referensi dan literatur tentang tai, akhirnya saya berkesimpulan, soal urusan tai ini tidak main-main lagi. Menurutku harus ada gerakan budaya tai. TEntu saja gerakan budaya efektif bila bermanfaat untuk rakyat. Sebelumnya, seniman dan budayawan yang lain, juga membuat gerakan budaya. Misalnya, Bung Sosiawan Leak dari Surakarta, membuat gerakan moral 'Puisi Menolak Korupsi'. Maka, saatnya para seniman Semarang bangkit, membuat gerakan budaya tai.

Gerakan ini bertujuan untuk menyelamatkan rakyat dari bahaya tai, dan me-manage-nya menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk manusia dan lingkungan hidup. Sebagai contoh, sekarang krisis sanitasi di dunia sangat mengkhawatirkan. Menurut data, 40% penduduk dunia tidak memiliki fasilitas sanitasi dan toilet yang layak. Demikian juga Indonesia, sekitar 20% penduduk, atau sekitar 50 juta orang, belum memiliki toilet. Akibatnya rakyat memilih membuang air besar di sembarang tempat seperti di sawah, sungai, atau tanah kosong dan tegalan.Setiap harinya, dihasilkan 14000 ton tinja yang dibuang bukan di toilet. Jumlah itu setara dengan 67000 gajah Sumatera. Wah, edan kan?

Akibatnya, tinja tersebut mencemari sungai dan tanah. "Karenanya tidak ada lagi air sungai yang melewati kota, yang airnya layak sebagai sumber air", kata Nugroho Tri Utomo, Direktur Pemukiman dan Perumahan Bappenas dalam acara peringatan Hari Toilet Sedunia di Jakarta kepada wartawan baru-baru ini. Kurang memadainya sanitasi dasar itu bisa menjadi pembunuh berantai sembunyi. Hampir 900 juta orang di dunia dipaksa untuk mengkonsumsi air kotor. Sementara setiap detik 20 anak meninggal dunia karena penyakit yang diakibatkan sanitasi buruk. Jumlah ini lebih besar daripada kematian yang diakibatkan oleh AIDS, malaria, dan campak.

Melihat hal itu, pemerintah baru menganggarkan dana sanitasi sebesar Rp. 6500 per-orang per-tahun, padahal idealnya adalah Rp. 47.000 perorang pertahun. Adanya orang yang tidak memprioritaskan sanitas, termasuk di rumah sendiri, karena beranggapan soal sanitasi ini adalah urusan pribadi. Melihat bahayanya tai kalau tidak dikelola dengan baik, bisa berakibat gawat bagi kehidupan manusia. Selain mempertahankan kesehatan, toilet juga memperbaiki martabat, meningkatkan taraf hidup, dan memberdayakan masyarakat. Untuk itulah, diperlukan tidak hanya dana saja untuk membangun toilet, tetapi komitmen dan perubahan perilaku masyarakat.

Saat ini sejumlah program telah dilancarkan oleh pemerintah dalam rangka mempercepat pembangunan sanitasi di Indonesia. Antara lain Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, program yang bertujuan membebaskan 2000 desa di Indonesia, dari buang air sembarangan. "World Toilet Today" yang diperingati setiap tanggal 19 November bertujuan untuk mendobrak tabu dalam membicarakan toilet sert meningkatkan kesadarn akan pentingnya fasilitas dan infrastruktur toilet. Melihat fakta-fakta itu, masihkah menganggap tai merupakan hal yang remeh?

Maka, kembali bertolak dari pemikiran Teha Edy Djohar itu tadi, gerakan budaya tai sudah mendesak. Bisa membantu pemerintah agar seluruh penduduk Indonesia punya toilet sendiri dan tidak berak di sembarang tempat, sehingga mengganggu kesehatan. Kalau Anda sempat melihat pembuangan tai di Desa Tanggungrejo, Kaligawe, Semarang, akan menjadi ngeri. Limbah itu akan meresap di tanah dan mencemari lingkungan, jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, gerakan budaya tai juga bisa membuat tai dari limbah berbahaya, dikemas menjadi yang bermanfaat, misalnya, pupuk organik. Bis juga untuk manfaat lain, misalnya sumber energi gas yang disebut bio-fuel atau bio-oil, tak akan habis-habisnya. Di negara maju seperti Kota San Antonio di Amerika Serikat. setiap tahunnya dilakukan tender pada perusahaan swasta untuk mengelola kotoran manusia ini menjadi bermanfaat, seperti gas rumah tangga. Di Jepang, seperti ditulis Lukni Maulana, tai dengan teknologi modern disulap menjadi makanan manusia. Hiii, ngeri, tapi itulah kenyataannya.

Dalam pertemuan yang diprakarsai Teha Edy itu, akhirnya diputuskan, seni pertunjukan tai, akan ditangai Eko Tunas. Gerakan Budaya Tai diserahkan kepada saya dan Ant Sugiarto. Sedangkan soal filosofi tai, diserahkan kepada Ahmad Fauzi yang ahli soal filsafat. Akankah muncul gerakan budaya tai ini? Kapan? Hanya waktu dan kemauan yang menentukan.[]

1 komentar so far


EmoticonEmoticon