Monday, January 30, 2017

Isra' Mi'raj dalam Perspektif Akidah

Oleh: Muhammad Arif

Dalam memahami peristiwa Isra’ Mi’raj, kaum muslimin terbagi menjadi 2 kelompok ekstrim. Kelompok pertama, yaitu mereka yang ekstrim mengasumsikan dengan logika; kedua, ekstrim membawa-bawa riwayat palsu dan kisah bualan.

Ketahuilah, bahwasannya segala sesuatu tidak selalu bisa diukur dengan logika, lebih-lebih jika hal itu berkaitan dengan keimanan. Menurut ulama tauhid, akal difungsikan sebagai sarana yang dapat membuktikan kebenaran syara’, bukan sebagai dasar dalam menetapkan akidah-akidah dalam agama. Di sisi lain, orang-orang kita –para da’i dan ustadz- hanya suka bercerita. Bahkan terkadang kita terjebak dengan membawa kisah-kisah palsu yang Maasya Allah sebenarnya tidak perlu digunakan. Kesalahan selanjutnya yaitu, kita hanya fokus dalam rincian cerita tanpa menghidangkan hikmah yang dapat dipetik, entah itu hikmah dari segi keilmuan akidah, fikih, ataupun akhlaq. Dan imbas dari itu semua akan menjadi “senjata makan tuan” yang digencarkan oleh kelompokkelompok luar. Salah satu ciri khas akidah ahlussunnah wal jama’ah adalah mengambil sikap tengah dan moderat. Kita tidak kaku dalam memahami makna literal suatu nash, juga tidak membiarkan akal melanglang buana tanpa kendali. Kita – Ahlussunnah Wal Jama’ah- diantara pemikiran kaum Hasyawiyah yang tekstualis dan Mu’tazilah yang logis. Kita diantara Jabariyah dan Qodiriyah. Juga diantara Khawarij dan Syiah.


Kerancauan Berfikir Para Penyembah Akal
Jika anda membaca rujukan-rujukan mereka, niscaya akan anda dapati kebodohan dan kedangkalan logika mereka. Mungkin bisa dimaklumi jika pemikiran itu berasal dari kaum orientalis yang memang mereka tidak mengenal Islam. Namun, akan mengherankan jika yang berpendapat seperti itu adalah tokoh-tokoh kita sendiri. Diantara pemikiran-pemikiran mereka yang menyimpang yaitu Isra’ Mi’raj dilakukan oleh ruh Nabi SAW, bukan dengan jasad; yang kedua, Allah bertempat di langit. Pendapat pertama, yang menyatakan bahwa yang ber-Isra’ Mi’raj adalah ruh Nabi SAW, adalah pendapat yang batil. Mereka berargumen bahwasannya jasad akan hancur jika melaju dengan kecepatan yang super tinggi (dalam hal ini Isra’ Mi’raj), sedangkan sandaran dari argumen itu adalah kajian ilmiah. Lihatlah betapa mereka menuhankan ilmu pengetahuan dan mengesampingkan agama. Apakah mereka tidak pernah membaca firman Allah SWT :

 سُبْحان الذِىٓ أ َسْرَىٰ بعَبْدِهِۦ لیْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إ ِلَى الْمَسْجِدِ الأْ َقْصَا

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. (QS. Al-Isrâ [17] : 01)

Dalam ayat di atas, Allah SWT menggunakan kata عبد) abdun) yang artinya “hamba”. Sebenarnya apakah makna ‘abdun ruh saja, tanpa jasad?. Seandainya pun benar, maka makna tersebut akan rancau jika dikaitkan dengan firman Allah yang lain :

 فَوَ جَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَیْنٰه رحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَ عَلمْنٰه مِن لدُنَّا عِلْمًا

Lalu keduanya (Nabi Musa dan pembantunya) bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami. (QS. Al-Kahfi [18] : 65)

Yang dimaksud “hamba” dalam ayat tersebut adalah Nabi Khidir. Jika kita kaitkan dengan pendapat ahli logika, mungkinkah Nabi Musa dan pembantunya bertemu dengan sebuah ruh? bukankah dalam ayat-ayat selanjutnya telah dijelaskan kisah perjalanan Nabi Musa dan hamba Allah tersebut? Maka menjadi batallah pendapat yang menyatakan bahwa Nabi SAW ber-Isra’ Mi’raj dengan ruh beliau saja. Pendapat kedua, mereka menyatakan bahwa Allah ada di atas langit (baca: ‘arsy). Subhaanallaah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan. Setelah membaca kisah Isra’ Mi’raj, bahwasannya Nabi SAW bertemu Allah secara langsung, mereka kemudian menyimpulkan bahwasannya Allah ada di atas ‘arsy. Pendapat ini lalu mereka kukuhkan dengan Firman Allah SWT :

الرَحْمٰنُ عَلى الْعَرْشِ اسْتَوَى

(Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang beristiwa di atas 'Arsy. (QS. Taha [20] : 5)

Padahal jika kita merujuk pada pendapat para salafunash sholih, tidak satupun diantara mereka yang menafsirkan kata “istawa” dengan bersemayam. Dan untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat semacam ini, para ulama ahlus sunnah wal jama’ah menggunakan 2 metode, yakni : tafwidh dan ta’wil. Jika pertemuan Rasulullah dengan Allah menjadi dalil bahwasannya Allah di atas langit, maka bagaimana ketika Allah berbincang-bincang dengan Nabi Musa AS di bukit Thursina? apakah Allah ada di bukit Thursina? Pemahaman tersebut akan semakin rancau ketika kita membaca ayat berikut :

َ قَالَ إ ِنِّى ذَاھِبٌ إ ِلىٰ رَ بِّى سَیَھْدِینِ

Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (QS. Ash-Shaffât [37] : 99)

وَ لِله الْمَشْرِ قُ وَالْمَغْرِ بُ ۚ فَأ َیْنَمَا تُوَلوا۟ فَثَمَّ وجْه الله

Milik Allah timur dan barat, Kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (QS. Al-Baqarah [2] : 115)

Ayat pertama dari 2 ayat di atas adalah ucapan Nabi Ibrahim ketika akan pergi ke Palestina. Jika demikian, Apakah Allah ada di Palestina? Tentu Tidak. Sedangkan ayat kedua jika kita fahami secara tekstual akan mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa Allah ada dimana-mana. Lalu dimanakah Allah yang sebenarnya? Jawaban yang tepat adalah Allah tidak butuh tempat, Allah ada sebelum tempat ada. Inilah yang membedakan akidah ِAhlussunnah wal Jama’ah dengan yang lainnya. Wa Allǎhu A’lam.[]


EmoticonEmoticon