Tuesday, January 31, 2017

Malam Kemarin Aku Bermimpi Seseorang Melesatkan Anak Panah ke Jantungku

Tags

Cerpen Novi Tri Handayani*

Jika suatu saat nanti aku berkesempatan memilih mimpiku sendiri, aku ingin menjadi bagian dari Nunusaku. Menjadi salah satu dari Alifuru. Jika bisa menjadi salah seorang dari tiga bersaudara keturunan Sem dan Kham. Meninggalkan Mesopotamia dan menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di dataran yang serupa burung Guheba. Lalu tinggal di sana dan menjadi bagiannya. Dan aku bisa menjadi Alifuru yang biasa-biasa saja. Yang bertemu dengan bangsa Alifuru lainnya. Kemudian jatuh cinta, dan menjadi buta. Katanyam cerita tentang Nunusaku tidak diketahui kebenaran adanya. Seperti dongeng yang beranak pinak menjadi pertanyaan-pertanyaan akan nyatanya. Tapi apa peduliku. Kau sudah sejak dulu jatuh cinta pada dongeng. Dan aku, sudah sejak dulu jatuh cinta padamu.

***

"Malam kemarin aku bermimpi seseorang melesatkan anak panahnya ke jantungku. Tentu saja aku berdarah, tapi tidak di dadaku. Melainkan di wajahku. Aku mencari cermin, tetapi ternyata aku tidak berada di kamarku. Aku berada di ranting pohon, terkapar. Ranting itu hanya seukuran ibu jari, namun bisa menopang tubuhku. Belum sempat kuterima beberapa keanehan ini, tubuhku yang sudah lemas merosot ke bawah. Aku dapat memastikan bahwa saat itu aku melihat seorang manusia yang berlari menjauh. Aku tak hapal wajahnya, tetapi aku tahu dia perempuan. Rambutnya panjang diikat ke belakang. Dalam hal ini, aku yakin ia pelaku utamanya karena di tangannya ia menggenggam busur panah. Lalu aku tersadar, tubuhku tenggelam. Tak lagi di ranting pohon.

Aku berada di lautan.

Aku yakin benar-benar tenggelam. Aku menerka di laut mana aku berada. Aku harap di Karibia, atau Othosk, tapi di Antartika, aku harap akan ada iguana dan melihatnya dari jarak pandang paling dekat. Menatap bola matanya yang bulat, mengenali bayangan wajahku yang terpantul di retina ketiganya yang likat. Tidak peduli nafasku pendek karena dalam keadaan tenggelam, aku tetap bisa bernafas. Dan aku tetap tenggelam di lautan, yang aku harap Karibia, atau Othosk.

Jika memang aku di Othosk, aku akan berenang sampai ke tepian. Di mana pohon-pohon sakura tumbuh dan deru ombak terlontar gaduh. Berenang sampai ke perbatasan Laut Cina, menemukan pulau-pulau kecil semacam film Cast Away, lalu menemukan diriku telah terjebak bertahun-tahun lamanya. Menjadi tua dan sendirian. Membuat kemungkinan bahwa mungkin saja aku tidak seberuntung Chuck yang akhirnya menemukan cara untuk pulang. Terlebih aku pemalas dan orang yang mudah pasrah. Tapi, setelah semua kusadari, kesadaran dalam bermimpi, ternyata tidak ada lagi apa-apa. Tidak Iguana, tidak Sakura. Tak Karibia, apalagi Othosk. Aku tetap dalam keadaan jantung yang tertembus panah dengan nafas masih tetap teratur. Berada di kedalaman laut yang tak pernah dapat kutebak di laut mana aku sebenarnya. Tidak ada ikan, tidak ada karang. Tak terumbu, tak juga tai-tai manusia yang setiap harinya dibuang di lautan.

Aku berusaha mengeja ulang mimpiku; Aku. Dipanah. Perempuan. Ranting. Darah. Tenggelam. Lautan. Kosong. Dan aku tetap bernafas.

Aku terbangun dengan tiba-tiba. Air mata menetes dari kedua ujung mataku tanpa kurasa. Aku menangis. Sedikit. Kembali pada keadaan sebenarnya; kenyataan dan kesadaran yang selalu muncul tiba-tiba, selalu membuat dadaku sakit. Aku merasa menjadi laki-laki yang melankolis, Resi yang begitu melankolis. Dan aku tak tahu apa sebabnya. Keasingan yang tak menemukan cahaya. Seperti dengan mimpi yang baru saja kulalui, rangkaian absurditas tiada batas yang ketajamannya sama rata dengan kenyataan.

Teori ini dapat juga diaplikasikan pada perempuan itu. Bukan, bukan perempuan yang ada di mimpiku. Tetapi Lindu. Yang menjadi salah satu ikon perempuan hippie nomor satuku, cantik dan absurditasnya bisa dibilang mimpi, bisa dibilang nyata. Karena dia memang perempuan gila yang cerdas, dan absurd. Dan semoga saja bukan sebuah mimpi jika aku sedang berbicara dengannya.

***

Semenjak sering bermimpi aneh, aku takut untuk tidur. Aku takut terjebak dalam mimpiku dan tidak bisa bangun lagi atau terbangun dengan tiba-tiba, dua hal yang sama-sama menyakitkan. Busa jadi aku akan tidur selamanya. Aku sudah menjauhi kopi dan meninggalkan buku dongeng. Menjalani terapi atau bermediasi ala yoga. Hanya agar aku bisa tidur dengan nyenyak. Banyak-banyak berdoa setiap malam agar Tuhan di sisiku dan makhluk-makhluk jahat pergi. Aku datang bercuriga bahwa ada makhluk jahat yang mengintai tidurku dan membuat mimpiku jadi jelmaan yang beragam, menjadi kesadaran yang bermacam-macam. Katanya, mimpi itu hanya kembang tidur, tetapi hampir tiap malam aku dijerat aromanya.

Suatu malam aku pernah bermimpi berada di sebuah hutan yang pohon-pohonnya sangat lebat. Aku seperti mengenal hutan itu, tapi aku lupa di mana. Bisa jadi deja vu, bisa jadi sekadar igauan tak bermutu. Kemungkinan aku pernah memasuki hutan itu dalam mimpiku yang lain, atau juga di dunia nyata. Tetapi yang paling kuingat, aku memegang sebuah panah dan busurnya. Aku tersadar jariku sedikit terluka, dan kulihat seorang laki-laki tergantung di atas ranting pohon seukuran ibu jari. Dadanya tertembus panahku. Ia berdarah, tetapi bukan di dadanya. Melainkan di wajahnya. Aku melihat kejadian itu begitu jelas, namun aku tidak sadar alasan aku memanahnya dan sejak kapan aku bisa memanah. Sayangnya, aku tidak dapat menginat wajah laki-laki itu karena berlumuran darah.

Aku berlari, namun tak tahu alasannya, kenapa aku mesti berlari. Aku hanay berlari dan kutemukan diriku tidak lagi berada di hutan. Di sekelilingku terdapat burung-burung yang beterbangan, langit yang lapang, dan tubuhku mematung, sendirian, dengan berat dan sulit untuk bergerak. Aku kembali mengamati sekitarku. Hening dan sepi.

Dengan susah payah aku meraba tubuhku: basah dan luas. Dan kusadari bahwa aku bukan lagi manusia. Aku laut. Di mimpiku, aku menjadi laut yang maha luas. Entah apa namanya, aku harap aku menjadi laut yang indah dan diidam-idamkan banyak orang untuk bisa didatangi. Entah di samudera mana. Semoga tidak ada yang membuang sekumpulan tai ke tubuhku. Tetapi tetap saja, menjadi laut sungguh bukan keinginanku. Aku tidak pernah bercita-cita memiliki tubuh yang sangat luas, ditinggali penyu dan ikan-ikan, ditumbuhi terumbu dan tumbuh-tumbuhan karang. Kuamati sekali lagi tubuhku. Tidak ada tangan, jari, kuku, dana, kepada ataupun anggota tubuh lainnya. Tak ada mata namun aku bisa melihat. Tak ada telinga namun aku bisa mendengar. Yang kulihat, yang kudengar, yang kucium, dan kurasakan; begitu asing, begitu asin. Aku merasa sangat lain. Bukan diriku. Tak pernah diriku.

Beberaoa saat kemudian, seorang laki-laki telah tenggelam di tubuhku. Kulihat wajahnya, kuamati tubuhnya; mirip sekali dengan orang yang kupanah dadanya. Wajahnya yang tadi berlumuran darah memang tak dapat kukenali tapi aku tahu lelaki yang tenggelam ini adalah lelaki itu, kaena kutemukan panahku masih tertancap di dadanya. Aku berusaha sembunyi, takut ia menyadari keberadaanku, tetapi tubuhku tak dapat bergerak. Aku mencoba sekuat tenaga, dan tetap tak bisa bergerak. Tubuhku hanya kubangan air maha luas dengan sedikit ombak bergulungan lalu kembali tenang.

Mimpi yang sulit diterima. Dan laki-laki itu jelas tak akan sadar bahwa akulah perempuan yang telah memanah dadanya. Aku terdiam lama, begitupun ia. Setelah itu pun, tak ada apa-apa. Hanya aku sebagai lautan dan seorang laki-laki dengan panah di dadanya yang telah tenggelam dalam tubuhku, terus tenggelam, semakin dalam. Entah apa yang terjadi selanjutnya aku tak tahu. Aku terbangun dengan tiba-tiba dengan dada yang sesak dan aku tak mengerti apa-apa. Kulihat jam dinding, pukul dua pagi.

Pagi yang asing tapi begitu dekat. Seperti bertemu dengan orang-orang tak dikenal setiap harinya. Semacam itu rasanya. Nafasku terengah-engah, dan air mata telah tumpah mengalir ke pipiku. Air mata yang juga asing, entah untuk perasaan macam apa. Tapi begitu dekat. Lalu aku ingat seorang lelaki dengan mimpi-mimpinya. Dan semacam rindu, ada pearasaan yang pelan-pelan melewati ingatanku. Katanya, “Jika suatu hari ia bisa memilih mimpinya, ia ingin menjadi orang gila. Menjadi orang yang paling gila. Karena dalam keyakinannya, ia percaya bahwa orang-orang gila ialah orang-orang yang sebenarnya paling waras di dunia.

Begitu kata Resi.

***

Akan kuceritakan kepadamu mengenai seorang gadis arah jam satu. Ia adalah hippies nomor satu favoritku dan kuberikan nama alias utunya ‘Madison’. Ia bukan yang paling cantik, tapi wajahnya semanis perempuan-perempuan India yang memiliki kulit eksotis. Namanya Indurasmi yang belakangan ini baru kutahu dari sebuah buku yang kupinjam dari seorang temanku, bahwa Indurasmi berarti sinar rembulan. Merupakan nama Sansekerta, sesuai dengan paras wajah dan warna kulitnya. Kau tahu, jika ia benar-benar rembulan, suatu hari aku akan memeluknya meskipun setelahnya bisa jadi aku akan meleleh dan menjadi serupa cairan lembek berwarna menjijikkan.

Lindu, panggilan akrabnya, benar-benar gadis arah jam satu yang menggairahkan. Rambutnya lurus digerai, suaranya agak sengau dan sedikit datar. Konon katanya gadis-gadis semacam ini cocok bersanding dengan pria petualang sepertiku. Dan aku mengamininya. Kami saling mengenal dalam jarak waktu yang singkat namun karena adanya intensitas waktu bertemu yang rutin dan beberapa cerita yang kami anggap menarik, tanpa disadari aku dan Lindu dengan mudah mendapatkan rasa nyaman untuk bercerita satu sama lain. Kami menjadi lebih dekat ketika kami sering bercerita banyak mengenai mimpi. Setiap dua kali dalam satu minggu aku bertemu dengannya di sebuah perkumpulan yoga. Aku mulai mengikuti yoga sekitar empat bulan yang lalu, bertepatan dengan pertemuan pertamaku dengan Lindu. Kedekatan kami dimulai semenjak ia bercerita bahwa ia sering mengalami mimpi-mimpi yang aneh dan dan sedikit ajaib. Aku menyebutnya gadis arah jam satu karena ia selalu berada di posisi tepat di arah jam satu di depanku. Jika berbicara, Lindu selalu menatap tajam ke arah lawan bicaranya. Katanya, itu merupakan salah satu caranya menghargai seseorang yang berbicara dengannya.  Seperti sekarang, gadis arah jam satuku berada tepat di depanku. Bercerita mengenai hal-hal yang menggairahkan. Kulihat jelas bibirnya, tipis dan mungil. Bergerak perlahan, mengeluarkan suara-suara dari mulutnya, membuatku tidak ingin melewatkan satu kata pun.

Aku yakin sekali bahwa kami berjodoh. Entah kenapa, aku selalu merasa sering bertemu dengannya entah di mana.

***

Selesainya aku menceritakan mimpiku terakhir kali, aku menghembuskan nafasku dalam-dalam. Aku butuh soda sepertinya. Apapun itu asal bisa mempuatku tenang, karena degup jantungku tak juga reda. Ada satu hal yang ingin  kuceritakan padamu, mengenai seorang pria dalam kitab Mahabrata. Jika aku bisa aku ingin mengubah namaku menjadi Satya, atau Durga, agar sepadan dengannya.

Aku adalah pendosa paling beruntung di dunia karena bertemu dengannya. Seorang pria bermata teduh dan berambut sebahui paling manis sedunia. Katanya, jika perempuan sedang jatuh cinta, ia akan berpegang erat pada 9 perasaan yang dimiliki dan menganggap satu logika yang tersisa tiada. Seperti kata Resi, “Laki-laki memiliki 9 logika dan 1 perasaan, sedangkan perempuan memiliki 9 perasaan dan 1 logika. Maka jika seorang perempuan berhasil mengambil perasaanku, maka habislah 9 logika yang kupunya untuk bernalar.”

Dan itulah yang kuharapkan. Hati dari seorang Resi yang duduk di depanku, dalam sebuah lingkaran orang-orang yang memiliki cerita. Yang membuat akal sehatku mati dan tinggal 9 perasaan saa yang tersisa. Dan aku ingin ceritanya.

Itu saja cukup

***

Setelah itu kuharap akan ada lagi. Entah apa, tapi pasti akan ada lagi. Entah harus berapa mimpi dan berapa panah yang akan melayang, aku menunggu. Rambut lurus dan mata yang berwarna coklat. Salah satu gadis keturunan Dewa Chandra yang harus dilestarikan. Mereka seperti panah yang tajam namun hangat. Seperti suara-suara yang menenangkan. Seperti bahagia tanpa banyak rasa. Aku selalu berharap berada di dalam jengkal yang lebih dekat dengannya. Melihat garis wajahnya dengan lebih  mudah. Dan suaranya akan terdengar lebih kering daripada kemarau. Matanya akan terlihat jauh lebih bening daripada embun.

Di sekumpulan yang aku tahu ada banyak orang-orang asing yang dengan yakinnya berbagi cerita tanpa pikir panjang, aku menemukannya dalam sebuah lingkaran. Yang kemungkinan besar aku akan terjebak pada cerita bodoh di mana banyak orang mengatakan bahwa itu hanyalah sekumpulan cerita saat kita tidur atau mungkin ada jawaban lain.

Meskipun aku bukan penikmat atau salah satu orang yang mempercayai hal-hal yang bersifat spiritual, aku tahu ada jawaban dalam lingkaran ini.

Tapi kemungkinan tak akan ada lagi. Entah panah, entah mimpi. Karena aku telah menangkap si pemanah yang pandai dan tak pernah meleset, melalui cerita-ceritanya. Hingga detik ini dan semuanya menjadi sangat jelas. Aku tidak akan pernah menyepelekan teori tentang intuisi.

Sekali lagi aku yakin tak akan ada lagi, entah panah entah mimpi. Entah ini bisa dipercaya atau tidak.

Bahwa gadis keturunan Dewa Chandra itu memang untukku.

***

Tiba-tiba aku terbangun. Kurasakan kepalaku agak pusing dengan degup jantung yang begitu cepat. Begitu dingin di sini, dan tak kutahu aku berada di mana. Hanya dataran yang ditumbuhi ilalang dan dilewati burung-burung camar. Kucoba menerka dataran macam apa ini, tapi tak kutemukan jawaban apapun. Yang benar-benar kuingat hanyalah bahwa aku baru saja bermimpi sangat panjang dengan banyak cerita. Mengenai mimpi di dalam mimpiku terakhir kali, dan mimpi seorang laki-laki bernama Resi. Bahwa tidak ada panah, ataupun darah. Tak ada cerita tentang jatuh cinta, apalagi Resi, seseorang yang tak pernah kukenal sebelumnya. Tapi meskipun merasa asing dengan orang itu, aku mendapati perasaan yang lain, seperti keinginan untuk dekat dengannya. Semacam jatuh cinta.

Namun aku lebih tak mengenal siapa aku sebenarnya. Perasaan ini juga membuatku berkeyakinan bahwa aku sedang bermimpi. Entah mimpi dalam mimpiku yang mana lagi, atau mimpi di dalam mimpi orang lain. Aku terlalu banyak bermimpi aneh belakangan ini. Aku tak tahu aku sedang dalam keadaan sadar atau tidak. Jika iya, aku tak tahu apa-apa mengenai diriku dan di mana aku berada. Jika tidak, aku tak tahu pula kapan akan terbangun. Hanya kesunyian yang semakin senyap, tak lagi ada banyak perasaan.

Dan sekarang aku benar-benar berharap berada di Nunusaku, tergeletak di datarannya yang serupa burung Guheba. Aku ingin jadi Alifuru saja. Cukup Alifuru dengan hidup yang biasa. Entah aku akan jatuh cinta atau tidak, atau mungkin mengalami mimpi lagi setelahnya, semoga aku bertemu lagi dengan laki-laki itu.

Begitu saja sudah cukup bagiku

***


*Novi Tri Handayani, lahir di Jakarta, saat ini elah menyelesaikan studi di Undip, jurusan Sastra Indonesia. Beberapa kali menjuarai lomba kepenulisan.


EmoticonEmoticon