Tuesday, February 14, 2017

Aghlabiyah, Dinasti Lokal di sekitar Abbasiyah, Potret Ekspedisi Prestisius, Berdirinya Mazhab, hingga Kemunduran Dinasti


Pasukan Laut - Pada awal periode, Abbasiyah mengalami puncak kejayaan, akan tetapi di kemudian hari, Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran sehingga banyak dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari Baghdad sesuai dengan kebangsaan masing-masing dan mendirikan sebuah dinasti sendiri-sendiri.

Di antara dinasti tersebut adalah Dinasti Aghlabiyyah yang berkebangsaan Arab, Dinasti Ayyubiyah yang berkebangsaan Kurdi dan Dinasti Fathimiyyah yang berkebangsaan Mesir. Kekuasaan ketiga dinasti ini meliputi Afrika Utara dan Mesir.

Kehadiran tiga dinasti ini telah membawa pencerahan bagi Islam, terutama Kairo yang dijadikan sebagai ibu kota pemerintahan. Dengan demikian Mesir telah menjadi suatu kota peradaban Islam yang menjadi pusat segala kegiatan pada masa itu.

Awal Mula Terbentuknya Dinasti Abbasiyyah
Saat Dinasti Abbasiyah berada di bawah kekuasaan Khalifah Harun ar-Rasyid, di bagian barat terdapat dua bahaya besar yang mengancam Dinasti Abbasiyyah. Pertama, dari Dinasti Idris yang beraliran Syi’ah. Kedua, dari golongan Khawarij. Oleh karena itu, Harun ar-Rasyid segera bertindak menempatkan balatentaranya di Afrika di bawah pimpinan Ibrahim bin al-Aghlab. Ibrahim bin al-Aghlab pun berhasil mengamankan wilayah tersebut.

Sebagai imbalan atas jasanya. Ibrahim bin al-Aghlab mengusulkan kepada Harun ar-Rasyid supaya wilayah Afrika dihadiahkan kepadanya dan anak keturunannya secara permanen. Harun ar-Rasyid menyetujui usuln Ibrahim bin al-Aghlab. Sehingga pada tahun 800 M, berdirilah Dinasti Aghlabiyah yang berpusat di Afrika. Nama Dinasti Aghlabiyah ini diambil dari nama ayah Ibrahim yang bernama l-Aghlab. Ia adalah seorang pejabat Khurasan dalam militer Abbasiyah.

Karena menjaga hubungan baik dengn Khalifah Abbasiyah seperti membayar pajak tahunan, pada awal kekuasaannya, Ibrahim I diangkat sebagai gubernur di Tunisia oleh Khalifah Harun ar-Rasyid. Bahkan, Ibrahim I diberi kekuasaan meliputi hak-hak otonomi yang besar seperti kebijaksanaan politik dan menentukan penggantinya tanpa campur tngan dari penguasa Abbasiyyah.

Pra Penguasa Dinasti Aghlabiyah
Dinasti ini berkuas selama kurang lebih 100 tahun (800-909 M). Wilayah kekuasaannya meliputi Afrika, Algeria, dan Sisilia. Para penguasa Dinasti Aghlabiyah yang pernah memerintah adalah sebagai berikut:
  1. Ibrahim bin al-Aghlab (800-812 M)
  2. Abdullah I (812-817 M)
  3. Ziyadatullah (817-838 M)
  4. Abu ‘Iqaal al-Aghlab (838-841 M)
  5. Muhammad (841-856 M)
  6. Ahmad (856-863 M)
  7. Ziyadatullah (863 M)
  8. Abu Ghasaniq Muhammad II (863-875 M)
  9. Ibrahim II (875-902 M)
  10. Abdullah II (902-903 M)
  11. Ziyadatullah III (903-909 M)
Ekspedisi Aghlabiyah
Penguasa Aghlabiyah pertama berhasil memadamkan gejolak Kharijiyah Berber di wilayah mereka. Dilanjutkan dengan dimulainya proyek besar merebut Sisilia dari tangan Byzantium pada masa Ziyadtullah I. Pada waktu itu, pasukan Aghlabiyah di bawah pimpinan panglima Asad bin Furat beserta 900 tentara berkuda dan 10000 orang pasukan jalan kaki, berhasil merebut pulau Sisilia dari tangan Byzantium. Pada peperangan ini, Asad bin Furad gugur dalam pertempuran. Inilah ekspedisi laut terbesar.

Selain itu, Dinasti Aghlabiyah melakukan ekspedisi ke pulau-pulu di Laut Tengah dan pantai-pantai Eropa seperti Pantai Italia Selatan, Sardinia, Corsica, dan Alpen. Dan pad tahun 868 M, mampu menduduki Malpa. Kemudian Aghlabiyah melanjutkan serangn-serangannya ke pulau lainnya dan pantai-pantai di Eropa, termasuk berhasil menaklukkan kota-kota pantai Italia Brindisi (836/221 H), Napoli (837 M), Calabria (838 M), Toronto (840 M), Bari Aghlabiyah berhasil merebut Malta pada tahun 868 M. Daerah-daerah tersebut yang kemudian menjadi wilayah kekuasaan Dinasti Aghlabiyah.

Dengan demikian, pada tahun 878 M sempurnalah penguasaan atas Sisilia, kemudian pulau itu berada di bawah pemerintahan muslim. Pertama, di bawah kekuasaan Aghlabiyah dan kedua di bawah gubernur-gubernur Fatimiyah, sampai penaklukan oleh Norman pada abad XI. Pulau itu menjadi pusat bagi penyebaran kultur Islam ke Eropa Kristen.

Karena tidak tahan terhadap serangan berkepanjangan dari pasukan Aghlabiyah pada bandar-bandar Italia, termasuk kota Roma, maka Paus Yohanes VIII (872-840 M) terpaksa minta perdamaian dan bersedia membayar upeti sebanyak 25000 uang perak pertahun kepada Aghlabiyah. Pasukan Aghlabiyah juga berhasil Yugoslavia (890 M), Pulau Malta (869 M), menyerang Pulai Corsika dan Mayorka, bahkan menguasai Kota Portofino di pantai barat Italia (890), kota Athena di Yunani pun berada dalam jangkauan penyerangan mereka.

Dengan keberhasilan penaklukan-penaklukan tersebut menjadikan Dinasti Aghlabiyah kaya raya, para penguasa bersemangat membangun Tunisia dan Sisilia. Ziyadatullah I membangun masjid agung Qairawan, sedangkan Amir Ahmad membangun masjid agung Tunis dan juga membangun hampir 10000 benteng pertahanan di Afrika Utara.

Tidak cukup itu, jalan-jalan, pos-pos, armada angkutan, irigasi untuk pertanian (khususnya di Tunisia Selatan, yang tanahnya kurang subur). Demikian pula, perkembangan arsitektur, ilmu, seni, dan kehidupan keberagamaan.

Selain pesatnya pembangunan, masa Dinasti Aghlabiyah juga merupakan masa penting munculnya Mazhab Maliki, dan ulama-ulama terkemuka, seperti Sahnun (w. 854 M) pengarang Mudwwanat kitab Fikih Maliki, Yusuf bin Yahya (w. 901 M), Abu Zakariya al-Kinani (w902 M), dan Isa bin Muslim w (908 M). Karya-karya para ulama pada masa Dinasti Aghlabiyah ini tersimpan baik di masjid agung Qairawan.

Peninggalan-Peninggalan Bersejarah
Dinasti Aghlabiyah banyak meninggalkan bangunan-bangunan bersejarah antara lain: (1) Pembangunan kembali masjid agung Qairawan oleh Ziyadatullah I, (2) pembangunan masjid agung Tunis oleh Ahmad, dan (3) pembangunan karya-karya pertanian dan irigasi yang bermanfaat khususnya di Afrika Selatan yang kurang subur.

Kemunduran Dinasti Aghlabiyah
Menjelang akhir abad IX, posisi Aghlabiyah di Afrika merosot. Hal ini disebabkan karena penguasa terakhirnya, yaitu Ziyadatullah III tenggelam dalam kemewahan (berfoya-ffoya), dan seluruh pembesarnya tertarik pada Syiah, juga propaganda salah seorang tokoh Syiah, Abu Abdullah.

Di samping itu, perintis Dinasti Fatimiyah, Mahdi Ubaidillah mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kemunduran Dinasti Aghlabiyah. Dinasti Fatimiyah melakukan serangan militer terhadap Dinasti Aghlabiyah. Ziyadatullah diusir ke Mesir setelah melakukan upaya-upaya yang sia-sia untuk mendapatkan bantuan dari Abbasiyah untuk menyelamatkan Aghlabiyah. Akhirnya, Dinasti Aghlabiyah tumbang pada tahun 909 M dan digantikan Dinasti Syiah, Fatimiyah. Wallahu a’lam.[]


EmoticonEmoticon