Tuesday, February 14, 2017

Perkembangan Sastra Arab dalam Peradaban Islam


Kontributor: Alil Wafa
Pasukan Laut - Sastra menempati posisi yang terbilang penting dalam sejarah peradaban Islam. Sejarah sastra Islam dan sastra Islami tak lepas dari perkembangan basa suci Islam dan al-Qur’an. Bahasa Arab klasik atau Bahasa Arab Qur’ani mempu memenuhi kebutuhan religius, sastra, artistik, dan bentuk formal lainnya. Sastra Arab (al-Adab al-‘Arabi) tampil dalam beragam bentuk: prosa; fiksi; drama; puisi.

Lalu, bagaimanakah dunia sastra berkembang dalam peradaban masyarakat Islam? Sejatinya, sastra Arab mulai berkembang sejak abad ke-6 M, yakni ketika masyarakat Arab masih berada dalam peradaban jahiliyah. Namun, karya sastra tertulis yang tumbuh era itu jumlahnya masih tak terlalu banyak. Paling tidak, ada dua karya sastra penting terkemuka yang ditulis sastrawan Arab di era pra-Islam. Keduanya adalah Mu’allaqat dan Mufaddhaliyat.

Orang pertama yang mengenalkan dunia Barat dengan sastra Arab adalah William Jones (1746-1794 M), dengan bukunya Poaseos Asiaticae Commen tarii Libri Sex, yang diterbitkan pada tahun 1774 M. Sastra Arab memiliki ciri-ciri yang umumnya menggambarkan suatu kebanggaan terhadap diri sendiri (suku), keuturunan, dan cara hidup. Sastra Arab memasuki babak baru sejak agama Islam diturunkan di Jazirah Arab yang ajarannya disampaikan melalui al-Qur’an. Kitab suci umat Islam itu telah memberi pengaruh yang amat besar dan signifikan terhadap Bahasa Arab. Bahkan, al-Qur’an tak hanya memberi pengaruh terhadap sastra Arab, namun juga terhadap kebudayaan Arab secara keseluruhan.

Bahasa yang digunakan dalam al-Qur’an disebut Bahasa Arab klasik. Hingga kini, bahasa Arab klasik masih sangat dikagumi dan dihormati. Al-Qur’an merupakan firman Allah–subahana-Hu wata’ala–yang sangat luar biasa. Terdiri dari 114 surat dan 6666 ayat, al-Qur’an berisi tentang perintah, larangan, kisah, dan cerita perumpamaan begitu memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan sastra Arab. Sebagian orang menyebut al-Qur’an sebagai karya sastra terbesar. Namun, sebagian kalangan tak mendudukkan al-Qur’an sebagai karya sastra, karena merupakan firman Allah–subhana-Hu wata’ala–yang tak bisa disamakan dengan karya manusia.

Penelitian serta penelusuran terhadap masa-masa kehidupan Nabi Muhammad–shallal-Lahu ‘alaihi wasallam–telah memicu para sarjana Muslim untuk mempelajari Bahasa Arab. Atas dasar pertimbangan itu pula, para intelektual muslim mengumpulkan kembali puisi-puisi pra-Islam. Hal itu dilakukan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya kehidupan Rasulullah–shallal-Lahu ‘alaihi wasalla–sampai akhirnya menerimaa wahyu menjadi Rasul.

Studi Bahasa Arab pertama kali sebenarnya telah dilakukan pada era kekhalifahan Ali–karramal-Lahu wajhah. Hal itu dilakukan setelah Khalifah menemukan masalah saat membaca al-Qur’an. Dia lalu meminta Abu al-Aswad ad-Du’ali untuk menyusun tata bahasa (grammar) Bahasa Arab. Khalil bin Ahmad lalu menulis Kitab al-‘Ayn, kamus pertama Bahasa Arab. Sibawaih merupakan nama sarjana muslim yang menulis tata bahasa Arab yang sangat populer berjudul al-Kitab.

Sejarah mencatat, sastra sangat berkemang pesat di era keemasan Islam. Di masa kekhalifahan Islam berjaya, ssastra mendapat perhatian yang amat besar dari para penguasa muslim. Tak heran, bila di zaman itu muncul sastrawan Islam yang terkemuka dan berpengaruh. Di era kekuasaan Dinasti Umayyah (661-750 M), gaya hidup orang Arab yang berpindah-pindah mulai berubah menjadi budaya hidup menetap dan bergaya kota.

Pada era itu, masyarakat muslim sudah gemar membacakan puisi dengan diiringi musik. Pada zaman itu, puisi masih sederhana. Puisi Arab yang kompleks dan panjang disederhanakan menjadi lebih pendek dan dapat disesuaikan dengan musik. Sehingga puisi dan musik pada masa itu seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.

Sastra makin berkilau dan tumbuh menjadi primadona di era kekuasaan Dauhlah Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad pada abad ke-8 M. Masa keemasan kebudayaan Islam serta perniagaan terjadi pada saat Khalifah Harun ar-Rasyid dan putranya al-Ma’mun berkuasa. Pada era itu, prosa Arab menempati tempat yang terhormat dan berdampingan dengan puisi.

Para sastrawan di era kejayaan Abbasiyah tak hanya menyumbangkan kontribusi penting bagi perkembangan sastra  di zamannya saja. Namun juga turut mempengaruhi perkembangan sastra di Eropa era Renaisans. Salah seorang ahli sastrawan yang melahirkan prosa jenius pada masa itu bernama Abu Utsman Umar bin Bahr al-Jahiz (776-869 M), cucu seorang budak berkulit hitam.

Berkat prosa-prosa yang gemilang, sastrawan yang mendapatkan pendidikan yang memadai di Bashrah, Irak, itu pun menjadi intelektual terkemuka di zamannya. Karya terkemuka al-Jahiz adalah kitab al-Hayawan atau ‘Buku tentang Binatang’, sebuah antologi anekdot-anekdot binatang yang menyajikan kisah fiksi dan non-fiksi. Selain itu, karya lainnya yang sangat populer adalah kitab al-Bukhala, Book of Misers, sebuah studi yang jenaka namun mencerahkan tentang psikologi manusia.


Pada pertengahan abad ke-10 M, sebuah genre sastra di dunia Arab kembali muncul. Genre sastra baru itu bernama Maqamat. Sebuah anekdot yang menghibur yang diceritakan oleh seorang pengembara yang menjalani hidupnya dengan kecerdasan. Maqamat ditemukan oleh Badi’uz-Zaman al-Hamadhani (w. 1008 M). Dari empat ratus maqamat yang diciptakannya, kini yang masih tersisa dan bertahan hanya 42 maqamat.[]


EmoticonEmoticon