Sunday, February 5, 2017

Quo Vadis Isu Pemecah Belah NKRI


Kontributor: Ahrori Zhofir
Entah siapa yang menggelindingkan opini provokatif soal terpecah-belahnya NKRI. Yang jelas, hingga saat ini banyak sekali yang latah dengan melontarkan isu pemecah-belah NKRI. Tak terkecuali mulai dari akar rumput hingga para pengamat. Kira-kira, teka-teki munculnya isu tersebut bermaksud untuk membangun Indonesia atau justru mengadudomba bangsa kita? Tidak perlu dijawab. Tetapi perlu sesekali untuk direnungkan, kemudian disimpulkan.
Berangkat dari sebuah upaya dan usaha untuk izzul Islam dengan berbagai macam ijtihadnya, ternyata hal tersebut memantik reaksi dari kalangan abangan yang lumayan kebakaran jenggot. Berawal dari kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, dan dibuktikan dengan fatwa MUI serta dinyatakan tersangka oleh Polri kini babak baru dimulai. Kelompok yang paling getol dan semangat untuk memperjuangkan agama Islam terus menggelorakan urgensitas dakwah dan memajukan Islam. Banyak ormas yang mendukung hal tersebut. Dan tidak sedikit pula yang menentangnya. Initinya, umat Islam benar-benar terlihat bersatu. Rupanya kebersatuan umat Islam membuat banyak kelompok mengerutkan dahinya, tak terkecuali Bapak Presiden. Padahal, umat Islam tidak punya niat jelek sedikitpun, yang diminta hanya satu: keadilan. Titik! Jika kemudian ada reaksi kurang sehat yang tergabung dalam niat baik tersebut tentu harus ada kebijakan yang arif dan santun. Tidak frontal apalagi anarkis.

Dari berbagai isu yang muncul belakangan, lalu ada tudingan miring yang melanda para aktivis dan para pimpinan umat Islam. Penangkapan terjadi di sana-sini. Pemicunya satu; gara-gara menuntut Ahok dipenjara. Lalu kemudian orang yang bersuara menuntut keadilan dibuat tak punya keberanian dan diangap makar. Letak pembeda antara pemerintah dan rakyat kini terlihat sendiri oleh khalayak. Untuk itu bagi kita saat ini, harus lebih jeli melihat keadaan yang berkembang. Bukan bermaksud untuk mengerdilkan nilai dakwah, tetapi bagaimana sekiranya situasi ini tidak tambah keruh akibat tujuan kita yang baik, tetapi dengan cara yang kurang ramah lingkungan.

Kembali kepada pembahasan, bahwa umat Islam harus bangkit dan bersatu merupakan keniscyaan yang tidak terbantahkan. Memperjuangkan nilai-nilai Islam tanpa mengorbankan identitas negara praktis diperlukan dan menjadi keharusan. Membaca situasi kekinian, sepertinya negara kita sudah mengalami kedangkalan berbangsa dan bernegara. Semuanya saling mengklaim kebenaran. Pemerintah yang diharap dapat meredam situasi yang tak karuan ini berbalik menjadi sumber pemicu adanya reaksi, bahkan hilangnya kepercayaan. Mengapa demikian? Sebab secara kasat mata, pemerintah seakan kurang berinteraksi dengan segenap elemen dalam mencari solusi bangsa. Jika ada perlu, baru melakukan komunikasi politik. Setelah itu ditinggalkan. Selesai.

Sangatlah perlu bagi pemerintah untuk memahami ajaran Islam secara mendalam ketika hendak membuat kebijakan-kebijakan yang bersinggungan dengan ajaran Islam. Sikap tergesa-gesa seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, semisal pemblokiran situs-situs Islam, pemblokiran akun ketua Ormas dan ancaman kriminalisasi MUI telah melukai perasaan umat Islam. Sebab dalam kasus tersebut pemerintah terkesan semena-mena, dan alergi terhadap Islam.

Hal tersebut belum perlakuan yang kurang adil dari pemerintah. Ada banyak ketidakadilan yang rupanya terlontar dari “mulut” pemerintah. Semisal ada kelompok yang  menyuarakan syariat Islam, belum apa-apa sudah dianggap radikal. Ketika ada sekelompok yang  bermaksud membasmi kemungkaran, belum apa-apa sudah dianggap pemecah NKRI. Sementara para kelompok, personal, atau bahkan politikus yang sejatinya mengancam NKRI malah dilindungi, atau kalau perlu ada pengamanan khusus. Sungguh perlakuan yang tidak adil. Pemerintah terkesan bungkam, sibuk dengan pencitraan sebagai modal untuk melanggengkan kekuasaan. Ini salah besar. Sebab bentuk kezaliman tidak boleh dibiarkan. Siapapun orangnya jika melanggar syariat dan bermaksud menghina agama harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Oleh karenanya, bagi pemerintah, jangan terkesan melindungi penjahat Negara yang berpotensi memecah-belah NKRI. Dan, jangan sekali-kali membuat rakyat menjadi bingung, apalagi sampai membuat keputusan personal.

Kepada umat Islam, mari ingat-ingat kembali sabda Rasulullah Saw yang berbunyi, “Di saat itu (akhir zaman), jumlah kalian cukup banyak, namun kalian adalah buih, seperti buih air."(HR. Ahmad dan Abu Daud, dari Tsauban).

Apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw merupakan keniscayaan di akhir zaman. Akan tetapi, bukan berarti umat Islam dipaksa untuk menyerah begitu saja. Usaha dan upaya untuk memperbaiki keburukan adalah hal niscaya. Karena itu, Islam tidak memperbolehkan umatnya menelan takdir secara mentah-mentah, karena takdir itu tidak untuk diamalkan melainkan untuk diyakini. Maka bagi kita, jangan terlalu pusing dengan keadaan Negara yang carut-marut, dan jangan gegabah dalam menelan isu provokatif, semisal pemecah NKRI. Sebagai warga NU, sikap hati-hati dan tidak gampang menghakimi orang lain harus ditanamkan dalam jiwa menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang kondusif serta bermartabat. Sikap diam diri dan acuh tak acuh, juga tidak baik kita kedepankan, melihat perkembangan Negara yang semakin tarik-menarik. Semoga Allah Swt melindungi kita semua. Amin.[]


EmoticonEmoticon