Thursday, February 2, 2017

Mencetak “Kamus Berjalan” dan Menggalang Penerjemahan Buku, Belajar dari Sejarah Dinasti Abbasiyah dan Restorasi Meiji

Mengapa Islam di saat Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad begitu cemerlang? Mengapa ia dipuji selaku mercusuar peradaban dunia? Mengapa karya-karya berskala dan berkaliber ensiklopedia muncul saat itu? Mengapa dia menjadi sumber pengetahuan modern? Karena, Khalifah Abu Ja’far al-Manshur bukan sekadar penguasa biasa yang asuik memerintah dan memungut pajak. Karena ia punya pandangan jauh ke depan. Karena mencerdaskan manusia. Karena ia menyebarkan wawasan.
Karena ia menggalakkan terjemahan. Karena ia perintahkan Baikhtaisyu Kabir dan Fadl ibn Naubakht serta Abdullah ibn Muqaffa menerjemahkan berbagai buku ilmu pengetahuan ke dalam Bahasa Arab. Segala rupa buku: kedokteran, ilmu pasti, falsafah, dari Bahasa Yunani, Persia, dan Sansekerta. Lewat penerjemahan itu, orang Arab meningkat mutunya.

Bukan sekadar Abu Ja’far al-Manshur saja. Khalifah berikutnya juga mengikuti jejaknya. Khalifah al-Ma’mun ibn Harun ar-Rasyid mendirikan ‘Daruh Hikmah’. Sebuah akademi ilmu pengetahuan. Sudah pasti inilah akademi jenis itu pertama di dunia. Dilengkapi perpustakaan. Dilengkapi badan penerjemah. Dilengkapi observatorium bintang. Dan sebuah universitas pimpinan Muhammad ibn Sallam. Anggota akademi berhamburan ke mana-mana, membawa pulang ke Baghdad tumbukan buku-buku untuk diteliti dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. Mereka kembali ke rumah bagaikan lebah yang sarat dengan madu, diisap oleh murid-murid yang bersemangat dan membentuk iklim kerja keras yang luar biasa.

Memang benar, Hulagu Khan 1258 M., menerobos masuk Mesopotamia, dan dari atas kudanya memporak-porandakan Baghdad. Memang benar tamtalah Dinasti Abbasiyah. Apa betul kegemilangan menuju ilmu juga ikut musnah? Tidak. Gudang buku yang begitu banyak memang diboyong habis. Tapi tidak dibuang ke comberan. Buku-buku itu dibawa ke Samarkand. Kota Rusia ini mengambil alih peran Baghdad, bakan ditambah dengan teropong bintang, dan Hulagu Kgan memeluk agama Islam. Dan pada saat nyaris berbarengan, sang saudara Kubilai Khan memeluk Agama Budha, memindahkan ibu kota kerajaannya ke Cathay, mengatur administrasi Tiongkok dengan bersih, menjadi kepala negara yang tidak terungguli ssaat itu di dunia.

***

Hal serupa terjadi di Jepang 800 tahun sesudah itu. Isolasi di bawah kungkungan rezim feodalisme yang beku telah membiarkan negeri itu terbelakang dalam hampir semua aspek: ilmu, ekonomi, dan kekuatan militer. Ketertutupan mengakibatkan Jepang suatu masyarakat pikun berhadapan dengan negeri-negeri Barat yang maju. Atas dorongan kelompok-kelompok pembaharu dari kelas menengah yang umumnya berpusat di Satsuma dan Choshu, fajar baru mulai menyingsing.

Orang mengenalnya dengan sebutan ‘Restorasi Meiji’, masa pemerintahan di bawah Kaisar Meiji, 1869-1912. Apa sesungguhnya sudah terjadi? Mahasiswa Jepang mengambil banyak ilmu ke luar negeri, dan membawa pulang ke Jepang. Negeri itu perlu investasi, dan investasi terpokok adalah manusia berkualitas. Di samping memerlukan “samurai”, Jepang memerlukan “cerdik-cendikiawan”. Di samping mengandalkan pedang, juga mereguk ilmu sebanyak-banyaknya, ditopang dengan rasa kolektivitas dan percaya diri yang tinggi, mendorong Jepang maju pesat.

Lagi-lagi penerjemahan merupakan salah satu kunci penting bagi kemajuan peradaban. Apa yang dilakukan Kaisar Meiji  persis yang dilakukan Khalifah Abu Ja’far al-Manshur atau Khalifah Ma’mun bin Harun ar-Rasyid 800 tahun lebih dulu. Mencetak buku sebanyak-banyaknya untuk masyarakat, menerjemahkan buku bahasa asing ke bahasa anak negeri, menanamkan kebiasaan membaca bagi generasi baru sejak dini, merupakan satu-satunya sarat berkembangnya peradaban.

***

Akan halnya arti penting penerjemahan, Indonesia harus mulai bergerak ke arah terjemahan. Terutama kitab-kitab dan buku-buku Islam karya para cerdik-cendikia dan ulama masa lampau. Memang, banyak sekali terjemahan bisa didapati di etalase-etalase toko-toko buku, tapi jumlah itu sama sekali tidak berarti dibandingkan usaha bangsa lain menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa anak negerinya. Satu-satunya hal yang membuat anak negeri enggan menjamah buku-buku cemerlang yang menjadi master piece Islam, ialah karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan mereka dalam menangkap pesan teks yang tertulis di dalam buku-buku itu. Alih-alih ingin memahami dan menangkap, membaca saja tidak bisa.

Belajar dari pengalaman khalifah-khalifah Abbasiyah dan Restorasi Meiji yang hingga sekarang terus berkembang, perlulah masalah terjemahan ini merupakan kemutlakan nasional. Mestinya proyek penerjemahan ini menjadi proyek besar-besaran. Dari mana datangnya kemajuan bilamana kita menutup pintu dari pikiran-pikiran orang lain sebagai bandingan? Selama kemampuan berbahasa asing, terutama Bahasa Arab, kita masih terbatas, jalan keluar satu-satunya adalah lewat terjemahan itu.

Saya tahu, banyak pemuka agama di negeri ini kurang berselera dengan terjemahan buku, berteguh hati supaya orang seyogyanya membaca langsung dari bahasa aslinya, bahasa Arab. Bila memang mampu tentu lebih bagus. Saya juga tahu, sekarang ini banyak suara yang menganjurkan membaca kitab kuning. Anjuran ini sangat bagus dan perlu didukung, bagi mereka yang telah menguasai gramatika Bahasa Arab. Selanjutnya, bagaimana menghadapi yang kurang beruntung?


Maka ada dua solusi. Pertama, menggalakkan terjemahan-terjemahan kitab-kitab atau buku-buku berbahasa Arab yang ditulis oleh ulama kita pada masa lampau. Hal ini penting melihat sejarah masa lalu berbicara tentang urgensitas mempelajari ilmu yang ditulis dengan bahasa anak negeri. Kedua, mencetak generasi muda sebagai “kamus bahasa asing berjalan”. Dalam hal ini, tugas pesantren dan tugas lembaga-lembaga keislaman di negeri ini sangat dibutuhkan. Kedua hal ini merupakan sebuah anjuran yang perlu ditanggapi serius dan barangkali bisa menjadi inspirasi bagi kita akan pentingnya mempelajari bahasa asing, terutama Bahasa Arab bagi seorang muslim. Maka anjuran untuk menjadi “kamus berjalan” juga harus diberangi dengan seruan menerjemahkan buku-buku itu ke dalam Bahasa Indonesia. Mengapa tidak? []


EmoticonEmoticon