Friday, February 3, 2017

Interkoneksi Kulit dan Isi




[Kontributor: Ahmad Fauzan AF]
Banyak hal acapkali bergantung pada kemasan, air comberan jika dimasukkan dalam minuman kaleng bersoda, pasti tetap laku. Tentu berbeda dengan air susu yang hanya dibungkus plastik dan diletakkan secara serampangan di atas lincak pedagang pasar tradisional. Kulit dan isi memiliki kosmosnya masing-masing. Kita tidak bisa meng-gebyah uyah (menyamaratakan) nilai antara isi dan kulit.


Suatu hal yang lumrah, kerap kulit yang hanya dilihat. Umat Islam pada masa Rasulullah--shallal-Lahu 'alaihi wasallam--tertipu dengan si munafik, Abdullah bin Ubay. Mula-mula, umat Islam tertipu, lantara ia menampakkan keislamannya secara lahiriah di mata mereka. Meskipun hatinya tidak beriman.

Allah--subhana-Hu wata'ala--melihat seorang hamba tidak hanya dari tampilan luarnya, tetapi juga dari hatinya. Sebuah hadis populer berbunyi:

إن الله لا ينظر إلى أجسامكو ولا إلى صوركم ولكن الله ينظر إلى قلوبكم

"Allah--subhana-Hu wata'ala--bentuk dan rupa kalian. Dia melihat hati kalian (HR. Muslim).

Setelah Rasulullah--shallal-Lahu 'alaihi wasallam--bersabda demikian, beliau menunjuk dadanya sambil bersabda, "Di sinilah tempatnya takwa".

Berkaitan dengan hadis ini, Imam an-Nawawi dalam Syarhu Arba'in an-Nawawiyyah, mengemukakan bahwa, perbuatan baik tidak bisa membuahkan takwa kepada Allah--subhana-Hu wata'ala--kecuali dengan hati yang ikhlas. Yang menjadi tolok ukur bukanlah pekerjaan lahiriah, melainkan pekerjaan bathiniyah. Abu Bakar Muhammad bin Hasan al-Ashbihani di dalam karyanya, Misykatul-Hadits wa Bayanuhu, mengaitkan Hadis di atas dengan Hadis berperingkat shahih yang juga populer: "Segala amal perbuatan bergantung pada niat". (HR. al-Bukhari).

Dapat kita petik sebuah kongklusi bahwa yang menjadi tolok ukur utama baik dan tidaknya pekerjaan dan hal-hal yang tampak secara lahir, ialah hati atau batin.

Dalam memilih pasangan hidup pun, kita dianjurkan untuk tidak hanya melihat tampilan luar, menempatkan jamal (kecantikan atau ketampanan), nasab, dan harta sebagai nomor kesekian, setelah yang pertama: din (agama). Beliau memberikan pengarahan kepada kita untuk menomorsatukan wanita yang memiliki kadar keagamaan yang kuat. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Zainuddin Abdurrauf al-Manawi di dalam at-Taysir bi Syarhil-Jami' ash-Shagir ketika mengomentari Hadis ini, bahwa kita didorong untuk mencari pasangan hidup yang beragama kuat.

Bahkan, di dalam Hadis Abdullah bin 'Amr--radhiyal-Lahu 'anhu--terdapat larangan yang jelas dan gamblang tentang larangan menikahi wanita karena faktor kecantikan dan kekayaan. Rasulullah--shallal-Lahu 'alaihi wasallam--bersabda:

لا تنكحوا النساء لحسنهن فلعله يرديهن ولا لمالهن فلعله يطغيهن وانكحوهن للدين ولأمة سوداء خرقاء ذات دين أقضل

"Janganlah kalian menikahi para wanita karena kecantikan mereka, karena bisa jadi (kecantikan mereka) membuat mereka rusak. (Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita) karena harta mereka, karena bisa jadi (kekayaan mereka) membuat mereka melampaui batas. Nikahilah mereka karena agama mereka. Sungguh, wanita budak yang berkulit hitam pekat tapi beragama kuat itu lebih utama". (HR. Ibnu Majah, al-Baihaqi, dan al-Bazzar).

Dengan demikian, memprioritaskan isi daripada kulit itu perlu. Akan tetapi, bukan berarti kulit itu tidak berguna, bukan berarti kulit tidak penting. Kulit dan isi memiliki dunianya sendiri-sendiri, namun antara keduanya saling berkaitan.

Al-Qur'an, sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr. Husain di dalam Al-Qur'an dalam Perspektif Filsafat Ilmu, tidak hanya mementingkan gagasan saja, tetapi kulit juga disesuaikan dengan keberadaan dan nalar terbatas "makhluk bumi". Al-Qur'an berinteraksi dengan manusia sepada dengan daya pikir mereka. Sehingga orang-orang Quraisy kalal itu terkagum-kagum dengan keindahan dan metafora ayat-ayat al-Qur'an yang dibacakan oleh Rasulullah--shallal-Lahu 'alaihi wasallam. Saking dahsyatnya ayat-ayat al-Qur'an, mereka sampai menuduh beliau sebagai penyihir. Gubahan syair-syair Arab tidak bisa sebanding dengan ayat-ayat al-Qur'an.

Interkoneksi kulit dan isi ini juga berlaku dalam banyak aspek kehidupan, termasuk dakwah. Kita sebagai muslim mesti menyampaikan pesan-pesan agama kepada manusia sesuai konteks, situasi, dan kondisi, dengan tetap berpijak pada rel agama. Imam al-Mawardi menjelaskan sebuah ayat yang populer tentang dakwah (QS. an-Nahl [16]: 125), bahwa mengajak manusia menuju Tuhan adalah melalui tiga hal, yaitu hikmah, al-mau'izhah al-hasanah, dan mujadalah. Selain memberikan hikmah, juga harus melakukan amar makruf nahi munkar dengan cara yang baik, dan berbicara secara sepadan dengan level berpikir masyarakat yang menjadi obyek dakwah. Seorang penceramah, KH. Zainuddin MZ, mengatakan, "Penari pintar bisa menyesuaikan tariannya dengan lagu dendang".

Walhasil, dalam banyak hal, kita tidak boleh mengesampingkan isi. Kendati di kasus-kasus tertentu, kulit juga merupakan hal yang urgen untuk dipoles agar isi bisa diterima. Menilai sesuatu dari kulitnya saja, berarti sangat atau kurang mendalam, bahkan bisa jadi melompong. Sibuk memoles isi dan melupakan kulit, kadang-kadang juga tidak indah. []


EmoticonEmoticon